Ia juga menyebutkan bahwa AS saat ini memiliki persediaan amunisi dalam jumlah besar, sementara perusahaan pertahanan seperti Lockheed Martin dan Raytheon tengah meningkatkan produksi hingga tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya.
“Jadi kami berada dalam kondisi yang sangat baik, tetapi kami ingin berada dalam kondisi terbaik,” ujarnya.
Trump juga menegaskan belum ada rencana untuk mengirim pasukan darat ke kawasan konflik, meski opsi tersebut tetap terbuka dan tidak akan diumumkan terlebih dahulu kepada publik jika diambil.
PWI Dorong Pemerataan Hunian Layak bagi Wartawan, Tapera Pastikan Akses Pembiayaan Terbuka
Biaya Haji 2026, Embarkasi Batam Sebesar Rp54.125.422 Per Jemaah
Permintaan tambahan US$200 miliar tersebut berada di luar anggaran tahunan Departemen Pertahanan AS sebesar US$838,7 miliar yang telah disetujui sebelumnya. Di saat yang sama, AS juga masih menanggung beban besar dari bantuan militer ke Ukraina yang telah mencapai ratusan miliar dolar sejak 2022.
Kondisi ini menunjukkan bahwa AS kini menghadapi tekanan anggaran yang semakin besar di tengah konflik yang belum menunjukkan tanda-tanda akan segera berakhir, sekaligus menegaskan bahwa prediksi awal mengenai durasi perang tidak berjalan sesuai rencana. *