TEL AVIV - Konflik politik di Israel kian memanas setelah Perdana Menteri Benjamin Netanyahu resmi memecat Kepala Shin Bet, Ronen Bar. Keputusan ini memperdalam ketegangan antara pemerintah dan badan intelijen dalam negeri tersebut.
Tak hanya itu, Netanyahu juga mengajukan pengaduan terhadap mantan Kepala Shin Bet, Nadav Argaman, yang kini dipanggil kepolisian untuk menjalani interogasi. Langkah ini semakin menegaskan konflik internal di lingkaran kekuasaan Israel.
Menurut laporan Channel 12 Israel, Netanyahu memanggil Ronen Bar untuk pertemuan darurat sebelum mengusulkan pemecatannya kepada pemerintah. Keputusan tersebut mendapat dukungan dari para sekutu sayap kanan Netanyahu, termasuk Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben-Gvir dan Menteri Keuangan Bezalel Smotrich. Keduanya menilai pemecatan Bar sebagai langkah yang sudah seharusnya dilakukan sejak lama.
Prabowo Resmikan Kepala BGN Baru, Said Iqbal Masuk Lingkaran Istana
Prabowo Copot Dadan Hindayana, Begini Respons Mantan Kepala BGN
Sebagai respons, Shin Bet mengeluarkan pernyataan yang menegaskan dedikasi Ronen Bar dalam menjaga keamanan nasional serta membebaskan sandera Israel. Mereka juga membantah segala tuduhan yang dilayangkan terhadapnya.
Ketegangan antara Netanyahu dan Shin Bet meningkat setelah badan intelijen tersebut mengakui kegagalan dalam mengantisipasi serangan Hamas pada 7 Oktober 2023. Netanyahu menilai investigasi Shin Bet atas insiden tersebut tidak memadai, sementara oposisi menudingnya sedang mencari kambing hitam.
Pemimpin oposisi Israel, Yair Lapid, mengecam cara Netanyahu memecat Bar dan menuduhnya kehilangan kendali serta mengabaikan nilai-nilai kepemimpinan. Lapid bahkan berencana mengajukan gugatan atas keputusan tersebut ke Mahkamah Agung Israel.
Ryamizard Ryacudu, Jenderal Lapangan yang Menapaki Puncak TNI hingga Menjadi Menteri Pertahanan
Parlemen Iran Bahas RUU Hadiah Rp950 Miliar bagi Pembunuh Trump dan Netanyahu
Sementara itu, Netanyahu juga melayangkan tuduhan serius terhadap mantan Kepala Shin Bet, Nadav Argaman. Ia menuduh Argaman melakukan pemerasan dan ancaman selama masa jabatannya, bahkan menyamakannya dengan bos mafia. Tuduhan ini semakin memperdalam krisis politik di Israel.
Argaman sendiri tidak tinggal diam. Ia mengisyaratkan bahwa jika Netanyahu bertindak di luar hukum, ia siap mengungkap seluruh informasi yang dimilikinya, termasuk dari pertemuan pribadi dengan sang perdana menteri. Ia juga menyerukan agar perang di Gaza segera dihentikan demi menyelamatkan para sandera.
Dengan semakin tajamnya perpecahan di tubuh pemerintahan Israel, langkah Netanyahu ini bisa menjadi titik balik yang menentukan nasib politiknya ke depan. *