JAKARTA - Rusia menyebut pembunuhan pemimpin politik Hamas, Ismail Haniyeh, sebagai "pembunuhan politik yang tidak dapat diterima".
"Ini adalah pembunuhan politik yang benar-benar tidak dapat diterima, dan ini akan memicu ketegangan lebih lanjut," kata Wakil Menteri Luar Negeri Rusia, Mikhail Bogdanov.
Bogdanov mengatakan pembunuhan ini juga akan berdampak negatif pada negosiasi gencatan senjata di Gaza.
Bupati Kampar Terima Audiensi PKS, Perkuat Sinergi Politik untuk Pembangunan Daerah
Menantu Dalangi Perampokan dan Pembunuhan Nenek di Pekanbaru
Rusia, yang memiliki hubungan dengan negara-negara Arab, Iran, Hamas, dan Israel, sering mengutuk kekerasan di wilayah tersebut dan menuduh Amerika Serikat mengabaikan kebutuhan akan negara Palestina yang merdeka.
Sementara itu, kelompok militan Palestina Hamas mengatakan pemimpin senior kelompok tersebut, Ismail Haniyeh, tewas dalam serangan setelah berpartisipasi dalam pelantikan Presiden Iran.
"Gerakan Perlawanan Islam Hamas meratapi kesyahidan anak-anak Palestina, Arab, dan Muslim, serta semua orang independen di dunia," kata kelompok tersebut dalam sebuah pernyataan, yang dilaporkan Mehr.
Diskominfo Kampar Dukung Publikasi dan Edukasi Politik Bawaslu
15 Orang Diamankan, Kajati Riau Nilai Pembunuhan Gajah di Pelalawan Libatkan Jaringan
"Lebih lanjut diumumkan, Haniyeh syahid di Teheran setelah berpartisipasi dalam upacara pelantikan presiden baru Iran karena serangan Zionis yang berbahaya di kediamannya," lanjut kelompok tersebut. *
Sumber: voi.id