|
PEKANBARUEXPRESS
|
![]() |
|||
| POPULAR YOUTUBE PILIHAN EDITOR | ||||
Penulis : republika
Dia menjabarkan, saat ini hujan buatan yang telah dilakukan, antara lain, di kawasan Sumatra meliputi Riau dan Musi Banyuasin. Sementara di wilayah Sumatra Selatan, bibit awan masih minim sehingga belum mencukupi untuk dilakukan modifikasi cuaca.
Kepala BMKG Dwikorita Kar nawati menyatakan, hujan buatan hanya dimungkinkan terjadi apabila bibit awannya mencukupi. Saat ini, bibit awan baru terpantau terdapat di kawasan Kalimantan. Menurut Dwikorita, BMKG dan KLHK sejak beberapa bulan lalu telah melakukan persiapan modifikasi cuaca.
Namun sayangnya, bibit awan memang belum masif muncul di wilayahwilayah terdampak karhutla. "Kami siapkan (persiapan) sejak beberapa bulan lalu, tapi memang bibit awannya minim," ungkapnya.
Suhu Udara Siang Hari di Riau Panas, BMKG: Bisa Capai 36 Derajat Celcius
Pemko Pekanbaru Pasang 35 CCTV Baru Dititik Strategis Ruang Publik
Satgas Karhutla Riau melakukan pemadaman bara api kebakaran lahan gambut di Kabupaten Pelalawan, Riau.
BMKG memprediksi kemarau masih berlangsung di sejumlah daerah hingga akhir Oktober. Pada awal hingga pertengahan November, kata dia, kemungkinan adanya bibit awan dapat terjadi sehingga modifikasi cuaca dapat dilakukan secara masif. "Untuk bulan November dan selanjutnya, bahkan kami perkirakan hujan sudah masuk sehingga kita bisa terbantu untuk pemadaman," ujarnya menjelaskan.
KLHK mencatat luas karhutla pada periode Januari-Agus tus 2019 mencapai 328,724 hektare. Luasan karhutla didominasi oleh lahan mineral dibandingkan lahan gambut. Adapun luasan karhutla di lahan mineral dari Januari-Agustus 2019 seluas 239,161 hektare, sedangkan lahan gambutnya mencapai 89,563 hektare.