Namun, beban tersebut dinilai masih sepadan jika dibandingkan dengan risiko yang dapat muncul apabila rupiah terus melemah, seperti peningkatan inflasi impor, tekanan terhadap subsidi energi, kenaikan imbal hasil surat utang negara, hingga potensi pelebaran defisit anggaran.
Dengan posisi rupiah saat ini, tantangan ke depan masih cukup besar. Stabilitas nilai tukar tidak hanya ditentukan oleh kebijakan dalam negeri, tetapi juga sangat dipengaruhi kondisi global, termasuk arus modal dan sentimen investor.
Upaya BI menunjukkan bahwa menjaga stabilitas rupiah kini bukan sekadar intervensi jangka pendek, melainkan membutuhkan strategi yang mampu mempertahankan daya tarik investasi dalam jangka menengah. *