Riyadh — Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman (MBS) mengambil posisi tegas di tengah meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran. Dalam komunikasi langsung dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian, MBS menyatakan bahwa Arab Saudi tidak akan mengizinkan wilayah maupun ruang udaranya digunakan untuk kepentingan serangan militer terhadap Iran.
Sikap tersebut dilaporkan oleh sejumlah media Timur Tengah dan kantor berita internasional, termasuk Saudi Gazette, Geo TV, dan Reuters, yang terbit pada 27–28 Januari 2026.
“Saudi Arabia will not allow its airspace or territory to be used for any military actions against Iran,” ujar Pangeran Mohammed bin Salman kepada Presiden Iran, sebagaimana dikutip media-media tersebut.
RAPP Tegaskan Komitmen Cegah Karhutla Jelang Musim Kemarau di Pelalawan
Bupati Afni Tegaskan Evaluasi Total BUMD, BSP Zapin Jadi Contoh Transformasi
Pernyataan ini muncul pada saat hubungan Iran–AS kembali memanas, menyusul meningkatnya retorika politik Washington serta penguatan kehadiran militer Amerika Serikat di kawasan Teluk. Sejumlah laporan menyebutkan bahwa Washington tengah menimbang berbagai opsi tekanan terhadap Teheran, termasuk kemungkinan langkah militer terbatas.
Dalam konteks tersebut, posisi Arab Saudi menjadi krusial. Sebagai sekutu strategis Amerika Serikat sekaligus kekuatan utama di kawasan Teluk, sikap Riyadh dinilai dapat memengaruhi arah eskalasi maupun upaya deeskalasi konflik.
Saudi di Antara Tekanan AS dan Stabilitas Kawasan
Bupati Siak Tegaskan Pentingnya Pendampingan bagi KTH dalam Pengelolaan Hutan
Wakil Bupati Pelalawan Tegaskan Sinergi Polri dan Masyarakat Demi Keamanan Lingkungan
Menurut laporan Reuters dan Middle East Eye, Amerika Serikat disebut berupaya menggalang dukungan dari negara-negara Teluk, termasuk Arab Saudi, terkait langkah menghadapi Iran. Namun, Riyadh memilih pendekatan yang lebih berhati-hati dengan menempatkan stabilitas kawasan sebagai prioritas.
Dalam pembicaraan dengan Presiden Iran, MBS juga menekankan pentingnya penyelesaian konflik melalui jalur diplomasi dan dialog, bukan konfrontasi bersenjata. Pendekatan ini sejalan dengan upaya Arab Saudi dalam beberapa tahun terakhir untuk menurunkan tensi konflik regional dan memperbaiki hubungan dengan negara-negara tetangga.
Respons positif datang dari Teheran. Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan bahwa negaranya terbuka terhadap setiap inisiatif yang dapat mencegah pecahnya perang.
Wali Kota Pekanbaru Tegaskan Larangan Gratifikasi Jelang Idulfitri 1447 H
Penanganan Banjir, Bupati Pelalawan Tegaskan Akan Prioritas Penataan Sungai Kerinci
“Tehran always welcomes any process that prevents war,” kata Pezeshkian, seperti dikutip Reuters, seraya menegaskan dukungan Iran terhadap penyelesaian konflik melalui mekanisme hukum internasional.
Pernyataan kedua pemimpin ini menunjukkan adanya kesamaan kepentingan antara Riyadh dan Teheran dalam mencegah konflik terbuka yang berpotensi meluas dan berdampak langsung terhadap keamanan serta ekonomi kawasan.
Sejumlah analis menilai, penolakan Arab Saudi untuk menjadi basis serangan militer juga didorong oleh pengalaman masa lalu, termasuk serangan terhadap fasilitas minyak Saudi yang pernah mengganggu stabilitas energi global. Konflik terbuka dengan Iran dinilai berisiko tinggi, tidak hanya bagi keamanan nasional Saudi, tetapi juga bagi pasar energi dunia.
Bupati Afni Tegaskan Komitmen Jadikan Siak Pusat Kebudayaan Melayu
Panas! Trenggono Sentil Menkeu Soal Dana Kapal, Tegaskan Bukan dari APBN
Dengan mengambil posisi menolak keterlibatan militer langsung dan mendorong dialog, Arab Saudi dinilai sedang memosisikan diri sebagai penyeimbang kawasan. Sikap ini juga mencerminkan perubahan pendekatan kebijakan luar negeri Riyadh yang tidak lagi sepenuhnya mengikuti garis kepentingan kekuatan besar, melainkan lebih menekankan kepentingan stabilitas regional jangka panjang.
Di tengah ketidakpastian hubungan Iran–AS, pernyataan MBS tersebut memperlihatkan bahwa dinamika politik Timur Tengah kini semakin ditentukan oleh kalkulasi aktor regional itu sendiri, bukan semata oleh tekanan geopolitik global. *