WACANA pembentukan Dewan Perdamaian (Board of Peace) dengan melibatkan Rusia dalam isu Gaza menandai satu hal penting: cara Donald Trump membaca dunia tidak pernah berangkat dari pakem diplomasi klasik. Bagi Trump, ini bukan soal siapa kawan dan siapa lawan, melainkan siapa yang harus duduk di meja agar konflik bisa dikendalikan.
Sebagai pebisnis tulen, Trump memandang negara-negara besar seperti Rusia, China, dan Korea Utara bukan semata sebagai ancaman ideologis, tetapi sebagai pemilik risiko global. Menurut dia, aktor-aktor semacam ini terlalu berbahaya untuk diasingkan. Justru karena berbahaya, mereka harus dirangkul dan diikat dalam sebuah mekanisme bersama—entah disebut dewan, forum, atau kesepakatan.
Dalam logika bisnis, pihak yang memiliki daya rusak besar tidak dibiarkan bergerak bebas. Mereka diajak bicara, ditekan, lalu diberi ruang agar kepentingannya tersalurkan tanpa meledak di luar kendali. Itulah sebabnya upaya melibatkan Rusia dalam Dewan Perdamaian tidak bisa dibaca sebagai sikap lunak, apalagi kompromi ideologis. Ini adalah strategi pengendalian.
Anggota Dewan Apresiasi Stimulus Ekonomi Pemerintah Dorong Daya Beli Masyarakat
Dewan Pers Gelar Diskusi Kasus Magdalene.id, SMSI Dorong Penguatan Mekanisme Sengketa Jurnalistik
Jika Rusia bisa diajak masuk dalam kerangka ini, bukan tidak mungkin China dan Korea Utara akan dipertimbangkan. Sebab, China dianggap memegang kunci ekonomi global dan stabilitas rantai pasok dunia. Sedangkan Korea Utara, dengan kartu nuklir dan sifatnya yang tak terduga, selalu menjadi sumber ketegangan di Asia Timur. Dalam kalkulasi Trump, mengabaikan mereka justru membuka ruang bagi krisis yang tidak bisa dinegosiasikan.
Pendekatan ini kontras dengan cara lama Barat yang gemar membangun blok dan garis pemisah tegas. Trump justru berusaha membongkar sekat itu dengan menciptakan meja baru, di luar struktur multilateral lama yang dianggap lamban dan penuh basa-basi moral. Dewan Perdamaian, jika benar-benar diwujudkan, akan menjadi forum alternatif yang tidak sepenuhnya dikendalikan Eropa atau institusi global konvensional.
Di titik ini, posisi Eropa menjadi menarik. Dalam kerangka Trump, Eropa bukan pemain risiko utama. Ia adalah sekutu lama, tetapi juga kawasan yang sangat bergantung pada payung keamanan Amerika. Ketergantungan ini membuat Eropa relatif mudah ditekan dan tidak mendesak untuk selalu dilibatkan sejak awal. Bagi Trump, mengamankan aktor berisiko jauh lebih penting ketimbang menjaga perasaan sekutu yang sudah mapan.
Di Tengah Konflik Gaza, Indonesia Resmi Masuk Dewan Perdamaian Trump
Dewan Perdamaian Versi Trump Bikin Dunia Waswas, PBB Terancam Tergeser
Konflik seperti Gaza kemudian berfungsi sebagai pintu masuk. Isu ini sarat dimensi kemanusiaan, tetapi juga memiliki resonansi geopolitik luas, melibatkan dunia Islam, Rusia, China, dan negara-negara Global South. Dengan menjadikannya agenda Dewan Perdamaian, Trump dapat memosisikan Amerika sebagai pengatur meja, bukan sekadar pendukung salah satu pihak.
Cara pandang ini tentu terasa dingin. Konflik tidak dilihat terutama sebagai tragedi, melainkan sebagai variabel yang harus dikelola. Namun bagi seorang pebisnis, konflik yang sepenuhnya selesai justru menghilangkan daya tawar. Yang lebih penting adalah memastikan konflik tidak berkembang liar dan tetap berada dalam jalur negosiasi.
Merangkul Rusia, dan mungkin kelak China serta Korea Utara, bukan berarti Trump mencari perdamaian ideal. Ia sedang membangun arsitektur kendali. Dalam dunia bisnis, jabat tangan hari ini tidak menutup kemungkinan konflik esok hari. Yang penting, semua pihak tetap terikat dalam satu kerangka yang bisa dinegosiasikan.
Ketua Dewan Pers Komaruddin Hidayat Buka Dialog Nasional SMSI: Media Baru Harus Mengarah pada Pers Sehat
Dukung Penguatan Media Siber, KH. Ma’ruf Amin Bersedia Jadi Ketua Dewan Penasehat SMSI
Pendekatan ini berpotensi mengubah wajah tata dunia. Diplomasi nilai bergeser menjadi diplomasi risiko. Negara-negara non-blok bisa memperoleh ruang manuver baru, tetapi nilai moral berisiko tereduksi menjadi sekadar latar.
Trump, pada akhirnya, tidak sedang menawarkan dunia yang lebih adil. Ia menawarkan dunia yang lebih terkendali menurut versinya. Dan dalam versi seorang pebisnis, merangkul lawan sering kali jauh lebih efektif daripada mengobarkan konfrontasi. Apakah ini akan menciptakan stabilitas jangka panjang atau justru menanam benih ketegangan baru, sejarah yang akan menjawab. *