Di sisi lain, SF Hariyanto datang dengan modal politik berbeda. Sebagai Plt Gubernur Riau, ia memiliki kekuasaan eksekutif dan akses politik yang luas. Posisi ini menjadi keunggulan tersendiri, terutama dalam hal pengaruh terhadap tokoh-tokoh daerah dan jaringan birokrasi. Namun, langkah SF Hariyanto maju sebagai calon Ketua Golkar Riau memunculkan perdebatan di internal partai.
Beberapa organisasi sayap dan tokoh senior Golkar menilai SF Hariyanto adalah sosok “baru” dalam partai dan belum memiliki akar yang kuat di tubuh Golkar. Bahkan, sejumlah pernyataan publik menyebut bahwa sebagian besar pemilik suara Musda menolak kehadirannya, karena dianggap tidak melalui proses kaderisasi yang jelas. Ia juga disebut figur yang cukup “kontroversial”, sehingga memicu resistensi di kalangan internal partai.
Meski demikian, SF Hariyanto juga bukan tanpa dukungan. Sejumlah organisasi masyarakat di Riau menyebut bahwa “sinyal kemenangan ada di tangan SF Hariyanto”, menandakan bahwa ia memiliki basis dukungan eksternal yang tak bisa diremehkan.
Ketua Fraksi NasDem DPRD Kampar Apresiasi Antusiasme ASN Ikuti Seleksi JPT Pratama 2026
Ketua Ombudsman Nonaktif, Heri Susanto Terjerat 14 Kasus Dugaan Korupsi
Ujian Kepemimpinan DPP Golkar
Perebutan kursi Ketua DPD I Golkar Riau kali ini juga menjadi ujian bagi Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Golkar, terutama dalam hal menjaga netralitas dan konsistensi kaderisasi. Sebab, beredar isu bahwa DPP mungkin akan memberikan diskresi atau restu khusus bagi salah satu calon. Padahal, langkah semacam itu berpotensi memunculkan perpecahan di tingkat daerah.