Di tempat yang sama, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy menyampaikan bahwa riset yang dilakukan menunjukkan kecenderungan masyarakat memanfaatkan hari 'kejepit' untuk memperpanjang libur.
Karenanya, ia menegaskan keputusan pemerintah untuk menggeser hari libur nasional semata-mata untuk mengurangi pergerakan massa secara besar di waktu yang sama.
"Jadi mengenai penggeseran libur hari besar keagamaan itu memang pertimbangannya semata-mata adalah untuk menghindari masa libur yang panjang. Karena di celah antara hari libur dengan libur reguler itu ada hari kejepit yaitu hari Senin," kata Muhadjir.
Anggaran MBG 2026 Dikurangi, Program Makan Gratis Hanya Berjalan Lima Hari
Pencarian Dua Hari Berakhir Duka, Rahmadani Ditemukan Tersangkut di Kerambah
Muhadjir menjelaskan bahwa Indonesia sudah memiliki pengalaman setiap terjadi libur panjang pasti diikuti dengan pergerakan orang besar-besaran dari satu tempat ke tempat yang lain. Hal itu potensial diikuti dengan kenaikan Covid-19.
"Dan memang banyak yang menyatakan ini kan sudah mulai turun, ya justru dengan keadaan turun itu kita tidak ingin main-main lagi karena kita sudah pengalaman setiap turun kemudian kita membiarkan libur panjang tanpa ada intervensi kebijakan itu akan diikuti dengan kenaikan kasus," kata Muhadjir.